Kelompok 5
Anisa Septriani (1731080007)
Khoiril (1731080106)
Uci Mulya Septa (1731080067)
Umi Rahmawati (1731080131)
Vricillya Putri (1731080069)
Emosi Jijik (Disgust)
Secara etimologi emosi berasal dari kata emetus atau emoure yang artinya mencerca (to still up) yaitu suatu yang mendorong terhadap sesuatu. Dalam kamus psikologi kata emosi (emotion) berasal dari bahasa latin emovere yang diterjemahkan sebagai bergerak, menyenangkan, mengendalikan, atau mengatasi. Kalau keadaan telah begitu kuat, hingga hubungan dengan sekitar terganggu, hal ini telah mengangkut masalah emosi. Seseorang yang mengalami emosi pada umumnya tidak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya.
Oleh karena itu sering dikemukakan bahwa emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah atau menyingkir terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.
Pengertian Emosi Jijik (Disgust) Rasa jijik, didefinisikan secara luas sebagai penolakan atau respon jijik yang bertujuan untuk menghilangkan diri dari keberadaan kontaminan potensial (Davey, 1994; Ola- tunji & Sawchuk, 2005; Rozin, Haidt, & McCauley, 2000) dianggap sebagai emosi dasar dengan profil unik dari aktivitas perilaku, kognitif, fisiologis, dan neurobiologis (Cisler, Olatunji, & Lohr, 2009) yang membedakannya dari emosi negatif lainnya seperti ketakutan, kemarahan, dan Sawchuk, 2005). Perasaan yang muncul karena suatu objek yang menjijikan, tidak disukai, atau dibenci. Emosi jijik tampaknya merupakan adaptasi yang lebih spesifik.
Meskipun masih ada beberapa perdebatan tentang fungsi adaptif yang tepat dari respons jijik, itu juga telah digambarkan sebagai emosi defensif alami yang telah berevolusi untuk melindungi dari bahaya. Fungsi biologis utama yang diusulkan dari rasa jijik adalah untuk melindungi organisme dari penyakit, penyakit dan kontaminasi. Fitur respons utama dari emosi jijik konsisten dengan ini karena rasa jijik dikaitkan dengan ekspresi wajah universal yang khas yang melibatkan kerutan hidung dan sudut mulut ke bawah, perasaan jijik dan mual, takut tertular, menghindari objek 'menjijikkan', dan perlambatan detak jantung. Rasa jijik telah menjadi emosi yang sering digunakan untuk mengilhami aktivitas dan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial dan budaya dengan pengaruh negatif. Dilihat dalam perspektif psikologis yang lebih luas ini, rasa jijik bukan hanya respons penolakan makanan yang berfungsi untuk menghindari penyakit; ia juga mengatur perilaku dalam konteks sosial dan interpersonal, dan akan memengaruhi sikap sosial kita dengan menyampaikan pandangan yang tidak dapat diterima secara budaya dan moral. fitur utama dari emosi jijik meliputi manifestasi fisiologis (mual), jarak diri dari objek yang menjijikkan (penghindaran), dan kepekaan terhadap kontaminasi dari atau penggabungan lisan, objek ofensif. Dengan demikian, seperti yang dijelaskan sebelumnya, manfaat adaptif dari emosi jijik tampaknya pencegahan penggabungan lisan benda-benda menjijikkan, dan sebagai konsekuensi pencegahan penularan penyakit.
Pengertian Emosi dalam Perspektif Islam
Ungkapan emosi dalam Al-Qur’an terkait langsung dengan perilaku manusia baik sebagai makhluk individu mapun social, pada tataran informasi masa lampau, kini, dan masa depan. Al-Qur‟an memberi petunjuk pada manusia agar mengendalikan emosinya guna mengurangi ketegangan-ketegangan fisik dan psikis serta efek negatifnya.Begitupula pula dalam hadits Nabi SAW banyak yang mengingatkan pengikutnya untuk selalu mengontrol emosi agar terciptanya kehidupan yang selaras dan seimbang. Dalam Al-Qur‟an (QS 4:79, QS 3:91) memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya manusia mengambil sisi baik atas setiap kejadian, walaupun pada mulanya itu sesuatu yang dianggap buruk dan tidak mengenakkannya. Cara tersebut dikenal dengan hikmah, yang dapat membuat manusia tidak larut dalam emosi negatif dan berpikir tentang kebaikan apa yang Allah sisipkan dari setiap kejadian.
Daftar Pustaka
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : C.V
Andi Offset Badour, Christal L. 2018. Peran Jijik dalam Stres Pascatrauma : Tnjauan Kritis Terhadap Literatur Empiris. Jurnal Psikologi Eksperimen.Universitas Arkansas USA. Hal 1-26.
Davey, Graham CL. 2011. Hindari Emosi dan Disfungsinya. Jurnal The Royal Society.